Minggu, 23 Oktober 2011

JURNAL HAKEKAT MASYARAKAT (kelompok 3)


HAKEKAT MASYARAKAT


Disusun Oleh :

Kelompok 3
Pendidikan Biologi Eks”09

Anggun Kurnia
Eva JSL Tobing
Fauziah Harahap
Nurmaya
Paridah Hasibuan
Widya Lestari











JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2011

ABSTRAK
Masyarakat merupakan proses saling pengaruh-mempengaruhi antara kebutuhan pribadi dengan unsur-unsur kehidupan bersama. Akan tetapi masyarakat merupakan suatu realitas yang baru. unsur - unsur dari masyarakat. Yaitu katagori social, golongan social, komunitas, kelompok dan perkumpulan. Keenam istilah sebtuan itu berserta konsepnya, syarat-syarat pengikatnya serta cirri-ciri lainnya.
Teori-teori yang menyatakan bahwa pribadi mempunyai kedudukan dominan terhadap masyarakat,antara lain yang menyatakan bahwa masyarakat mempunyai kedudukan dominan terhadap pribadi tersimpul dalam teori-teori Comte dan Durkheim. Dan Herbert Spencer berpendapat bahwa secara genetik perubahan-perubahan alamiah di dalam diri manusia mempengaruhi struktur masyarakat di dalam atau dimana manusia tersebut hidup.

PENDAHULUAN
Pada umumnya, manusia sebagai pribadi atau individu kurang mendapatkan perhatian ataupun telaah yang mendalam. Artinya, manusia sebagai makhluk pribadi umumnya di tempatkan pada kedudukan kedua, setelah masyarakat.Secara konvensional,maka ruang lingkup dari sosiologi diarahkan para analisa yang bersifat agregatif atau kolektif terhadap organisasi masyarakat, lembaga-lembaga maupun organisasinya, peranan-peranan maupun norma-norma.
            Taraf perhatian terhadap manusia sebagai pribadi (selanjutnya dinamakan pribadi) sebenarnya dapat dikaitkan dengan pendekatan-pendekatan mikro dan makro dalam sosiologi. Perbedaan pokok antara kedua pendekatan tersebut terletak pada unit analisa yang lebih banyak diberi tekanan. Pendekatan makro mengunakan analisa yang bersifat agregatif atau kolektif, sedangkan pada pendekatan mikro memecahkan obyek penelitian ke dalam unsur  atau komponen makro ada komponen kecil dan hal itu yang diteliti secara mendasar. Dengan demikian maka didalam didalam pendekatan makro ada kemungkinan bahwa hal-hal itu yang menyangkut pribadi (walaupun penting untuk ditelaah), agak diabaikan.
             Dalam pembahasan inilah dikategorikan teori-teori yang membahas masalah pribadi dan masyarakat. Maksudnya adalah untuk mendapatkan suatu gambaran yang luas mengenai pribadi dan masyarakat ,yang seringkali tidak disesuaikan,yang sering kali bahkan dipertentangkan,Biar bagaimanapun juga pribadi dan masyarakat mempunyai fungsi yang sama pentingnya,sehingga dalam teori sosiologipun sering timbul permasalahan yang menyangkut hubungan antara pribadi dengan masyarakat.

PEMBAHASAN
Hakekat  Masyarakat
Perubahan – perubahan sosial di dalam masyarakat Indonesia yang tidak dapat di putar kembali jarum jamnya, semuanya di arahkan kepada suatu tujuan untuk membangun suatu masyarakat Indonesia baru. Perubahan – perubahan sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat tidak terlepas dan bahkan merupakan hasil dari proses penyelenggaraan pendidikan. Proses pendidikan menghasilkan perkembangan dan pertumbuhan hidup dan kehidupan manusia sebagai konsekuensi dari kemajuan ilmu dan teknologi serta munculnya teknokrat – teknokrat hasil proses pendidikan yang merancang dan melaksanakan pembangunan dalam setiap aspek kehidupan manusia.
Perubahan sosial dalam kehidupan masyarakat sangat tergantung pada perkembangan tatanan kehidupan masyarakat  yang sudah semakin menyadari fungsi dan peranan masing – masing anggota masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga demokrasi semakin menampak dalam kehidupan masyarakat. Demikian juga pengaruh globalisasi sejalan dengan perkembangan teknologi informasi seolah – olah tidak ada lagi batas atau sekat antar negara. Teknologi informasi telah menembus batas daerah, negara, regional, dan bahkan global atau internasional, sehingga perubahan yang terjadi semakin pesat terjadi menuju masyarakat modern. Berikut H.A.R. Tilaar (2000:79) menggambarkan perubahan sosial ke arah masyarakat Indonesia Baru, jelasnya sebagai berikut :





Tabel. 1 : Perubahan Sosial Ke Arah Indonesia Baru

Nasionlisme/Tribalisme
Otonomi Daerah
Menuju masyarakat Indonesia Baru
Demokrasi
1.  Negara-Bangsa vs Tribalisme
2.  Tribalisme dan premordialisme
3.  Toleransi
4.  Koalisi antar budaya etnis
1.    Meningkatnya partisipasi masyarakat
2.    Pemimpin lokal, lokal genius
3.    Sistem perwakilan melalui PEMILU yang bebas
1.  Lahirnya masyarakat demokratis dan terbuka serta toleran
2.  Manusia dan masyarakat yang cerdas
3.  Partisipasi masyarakat dalam  kehidupan politik, ekonomi dan sosial.
4.  Revitalisasi budaya local
5.  Lahirnya nasionalisme yang “genuine” dalam pengembangan kapital sosial (social capital)
6.  Ekonomi berdasarkan ilmu pengetahuan dan sumber lokal
7.  Lahirnya masyarakat telematika
8.  Pelestarian  dan pemanfaatan SDA daerah
9.  Sumber Daya Manusia berkualitas dan mampu bersaing dalam dunia regional dan global.
10.     Anggota masyarakat global yang berbudaya
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknolgi
1.  Ilmu pengetahuan dan teknologi merambah tanpa paspor dan visas
2.  Mempererat solidaritasme global
3.  Teknologi informasi dapat mempererat identitas etnis
4.  Terbentuknya masyarakat telematika
1.    Mempercepat pembangunan daerah
2.    Daerah mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai kebutuhan daerah.
3.    Memanfaatkan masyarakat telematik untuk keperluan daerah
Globlisasi

1.  Lahirnya nasionalisme yang “genuine:
2.  Kerjasama dalam persaingan global
3.  Ikut serta dalam pergaulan global


1. Keikutsertaan daerah dalam pergaulan global
2. Mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas
3. Melestarikan dan memanfaatkan lingkungan hidup

Bangsa dan masyarakat Indonesia telah bertekad untuk membangun suatu masyarakat Indonesia baru sebagai hasil dari gerakan reformasi untuk meninggalkan kehidupan yang telah di bangun selama Orde Baru yang telah menafikan nilai – nilai demokrasi dan nilai – nilai kemanusiaan.
Visi dari pembangunan nasional yaitu memperkuat jati diri dan kepribadian manusia, masyarakat dan bangsa Indonesia dalam suasana yang demokratis, tentram, aman, dan damai H.A.R. Tilaar (2000:166). Pengalaman masyarakat dan bangsa Indonesia  dalam krisis nasional yang berkepanjangan melahirkan visi tersebut. Kondisi kehidupan nasional termasuk  pendidikannya yang kurang bermakna bagi pengembangan pribadi dan watak peserta didik sehingga kualitas kehidupan dan jati diri bangsa telah menurun, taggung jawab bersama dan cinta sesama masyarakat dan bangsa Indonesia telah menurun. Pertumbuhan ekonomi di kota dengan di desa kurang merata sehingga semakin tertinggal dan kehidupan di kota semakin meningkat,akibatnya desa seolah- olah terpinggirkan.
            Visi masyarakat Indonesia baru tersebut di atas di tuangkan di dalam misi bidang pendidikan nasional yaitu mengembangkan kualitas manusia Indonesia. Misi tersebut dalam bidang pendidikan nasional antara lain terwujud hal berikut :
1.      Memberdayakan lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan nilai. Di dalam usaha tersebut perlu melibatkan dan meningkatkan partisipasi keluarga dan mayarakat.
2.      Pembaruhan dan pemantapan system pendidikan yang berdasarkan kepada prinsip desentralisasi, otonomi keilmuan dan manajemen H.A.R. Tilaar (2000:167).
Untuk mewujudkan misi tersebut berbagai usaha di lakukan untuk mengembangkan kualitas – kualitas manusia Indonesia yang demokratis, berakhlak mulia, kreatif, inovatif, berwawasan kebangsaan, cerdas, sehat, berdisiplin, bertanggung jawab, dan menguasai iptek.
Dengan mencermati visi dan misi masyarakat Indonesia baru dengan jelas menunjukkan betapa peranan pendidikan nasional di dalam mewujudkan dan mengembangkan nilai – nilai baru yang di inginkan. Kemajuan yang telah di capai selama orde baru memang di rasakan manfaatnya saat ini, namun masih perlu di cermati masih ada hal – hal yang masih kurang selama ini dalam praksisi pendidikan kita terutama dalam hal pengembangan pribadi dan watak peserta didik. Mencermati kembali terhadap praksis pendidikan kita selama ini ada dua hal yang sangat penting di kemukakan di dalam pembangunan pendidikan nasional, yaitu :
1.      Lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan nilai, dan
2.      Prinsip – prinsip pengelolaan pendidikan yaitu desentralisasi serta pengakuan kembali terhadap otonomi keilmuan serta manajemen yang efisien dan efektif.
Masyarakat akan selalu mengalami perubahan dan perubahan itu seiring dengan tuntunan perkembangan kehidupan masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi, pengaruh regional dan global. Pendidikan berperan penting dalam mewujudkan dan mengembangkan nilai – nilai baru yang di inginkan menuju masyarakat Indonesia baru. (Tim Dosen:2011)

Kehidupan  Kolektif  Masyarakat  Dan Defenisi Masyarakat
Kehidupan kolektif dalam alam binatang tidak hanya makhluk manusia saja. Melainkan juga banyak jenis makhluk lain hidup bersama  individu – individu sejenisnya dalam gabungan. Dari ilmi mikrobiologi misalnya kiya mengetahui banyak bahwa jenis protozoa hidup bersama makhluk sel sejenis dalam suatu kolektif sebanyak ribuan sel yang masing – masing tetap merupakan individu sendiri –sendiri. Dari mempelajari kolektif – kolektif binatang kita dapat mengabstraksikan beberapa cirri yang dapat kita anggap ciri khas kehidupan kolektif yaitu :
1.      Pembagian kerja yang tetap antara berbagai macam sub kesatuan atau golongan individu dalam kolektif untuk melaksanakan barbagai fungsi hidup.
2.      Ketergantungan individu  kepada individu lain dalam kolektif sebagai akibat dari pembagian kerja tadi
3.      Kerjasam antar- individu yang disebabkan karena sifat ketergantungan tadi
4.      Komunikasi antar- individu yang diperlukan guna melaksanakan kerjasama tadi
5.      Diskriminasi yang ada antara antara individu- individu warga kolektif dan individu- individu sari luarnya.
Mengenai azas-azas pergaulan antara makhluk dalam kehidupan alamiah itu bebrapa ahli filsafat seperti Herbert spencer pernah menyatakan bahwa azas egoism atau azas “mendahulukan kepentingan diri sendiri di atas kepentingan yang lain “, muthlak perlu bagi jenis – jenis makhluk untuk dapat bertahan dalam alam yang kejam. Hanya sikap egois dapat membuat sejenis makhluk sedemikian kuatnya sehingga cocok dengan alam untuk dapat bertahan dan hidup langsung.
Sebaliknya ada beberapa ahli filsafat lain yang mengungkapkan bahwa lawan azas egoism yaitu azas altruisme, atau azas “hidup berbakti untuk kepentingan lain” juda dapat membuat jenis makhluk  itu menjadi sedemikian  kuatnya sehingga  dapat bbertahan dalam proses seleksi alam yang kejam.  Kita dapat mengerti bahwa  azas altruism initerutama bagi makhluk – makhluk yang kolektif. Justru karena azas altruism yang kuat, maka jenis makhluk kolektif itu mampu mengembangkan suatu hubungan bantu-membantu. (Koentjaraningrat:2002)

Unsur- unsur masyarakat
Adanya bermacam-macam wujud kolektif manusia menyebabkan kita memerlukan beberapa istilah untuk membeda-bedakan berbagai macam kesatuan manusia. Kecuali istilah yang paling lazim, yaitu masyarakat, ada istilah-istilah khusus untuk menyebut kesatuan-kesatuan khusus yang merupakan unsur - unsur dari masyarakat. Yaitu katagori social, golongan social, komunitas, kelompok dan perkumpulan. Keenam istilah sebtuan itu berserta konsepnya, syarat-syarat pengikatnya serta ciri-ciri lainnya.
Masyarakat seperti yang disebut diatas, istilah yang paling lazim dipakai untuk menyebutkan kesatuan-kesatuan hidup manusia, baik dalam tulisan ilmiah maupun dalam bahasa sehari-hari adalah masyarakat. Dalam bahasa inggris dipakai istilah society yang berasal dari kata latin socius, yang berarti”kawan”.
Masyarakat adalah memang sekumpulan manusia yang saling bergaul atau dengan istilah-istilah saling berinteraksi . (Koentjaraningrat:2002)

Teori-Teori Tentang Pribadi Dan Masyarakat
            Teori-teori yang menyatakan bahwa pribadi mempunyai kedudukan dominan terhadap masyarakat,antara lain yang menyatakan bahwa masyarakat mempunyai kedudukan dominan terhadap pribadi tersimpul dalam teori-teori Comte dan Durkheim. Dan Herbert Spencer berpendapat bahwa secara genetik perubahan-perubahan alamiah di dalam diri manusia mempengaruhi struktur masyarakat di dalam atau dimana manusia tersebut hidup.
Kumpulan-kumpulan dari pribadi-pribadi yang merupakan suatu kelompok, merupakan suatu faktor penentu bagi terjadinya proses-proses kemasyarakatan.Demikianlah menurut Spencer, Hakekat alamiah merupakan struktur sosial. Di dalam menentukan kualifikasi kedudukan tersebut maka Spencer memberikan suatu alokasi tertentu pada derajat otonomi dari perkembangan kemasyarakatan. Dia menganggap masyarakat sebagai suatu benda material yang tunduk pada hukum-hukum umum mengenai evolusi. Masyarakat juga mempunyai hubungan dengan lingkungan fisik, yang menghasilkan bentuk-bentuk akomodasi tertentu di dalam masyarakat. Terutama di dalam organisasinya. Masyarakat tersusun atas hakekat manusia, sedangkan bentuknya ditentukan oleh alam,dan modifikasi yang dibentuk sulit di tentukan akibatnya pada manusia, kecuali setelah satu jangka waktu yang lama. Oleh karena hakekat manusia berubah maka masyarakat juga berubah. Moral masyarakat semakin meningkat lebih dibentuk oleh inteligensia,dan lebih mampu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan warga masyarakat yang semakin berkembang. Spencer juga berpendapat” bahwa unsure-unsur terkecil dari dinamika masyarakat juga terbentuk atas dasar perkembangan hakekat manusia. Oleh karena proses pendewasaan dari seorang anak adalah sama dengan perkembangan evolusioner dari taraf sederhana menuju taraf peradaban yang lebih maju.
Petro juga menempatkan hakekat manusia didalam pusat perhatiannya dalam usaha untuk menjelaskan mengenai masyarakat. Petro menyatakan bahwa masyarakat adalah satu system rumit yang menyangkut perkembangan perilaku secara berurut. Walaupun terdapat berbagai unsur analitis di dalam system tersebut,namun pusat dari unsur-unsur tersebut adalah manusia pribadi yang mendorong terjadinya perkembangan perilaku secara berurutan.
Comte menyatakan bahwa masyarakat merupakan kelompok makhluk hidup dengan realitas – realitas baru yang berkembang menurut hukum-hukumnya sendiri dan berkembang menurut pola perkembangannya tersendiri. Manusia diikat dalam satu kelompok karena rasa sosial yang serta merta dan kebutuhannya. Pribadi sendiri adalah makhluk yang lemahyang sukar untuk bertahan. Apabila ia hidup dengan rekan-rekannya maka akan timbul dinamika sosial dan intelektualis kolektif yang memungkinkannya untuk menguasai keadaan sekelilingnya.
Oleh karena itu, maka hubungan antara pribadi dengan masyarakat di dalam keadaan yang tegang, walaupun tegangan tersebut dapat dikurangi dengan jalan memberikan penyaluran pada dorongan-dorongan yang ada di dalam diri manusia tersebut. Ketahanan untuk hidup dimungkinkan dan demikian pula perkembangannya. Dan hanya bila perasaan dasar dan egoism manusia di tekan .Fakta perkembangan ada atau terbukti apabila hakekat manusia berada di bawah atau ditentukan oleh unsur-unsur kemasyarakatan.
Durkheim berpendapat bahwa: kekuatan-kekuatan sosial sangat dominan terhadap pribadi. Hal itu dikemukakannya karena dia percaya bahwa hakekat manusia sangat kecilperanannya. Maka faktor-faktor kemasyarakatan merupakan suatu realitas baru yang muncul. yang mempunyai hubungan secara tidak langsung dengan agregasi pribadi-pribadi. Dalam hal ini, Durkeim memberikan peranan yang sangat besar kepada proses sosial dimana masyarakat memberikan masukan yang sangat besar pada hakekat pribadi. Dalam hal ini maka faktor-faktor sosiallah yang mengatur dorongan-dorongan maupun kebutuhan-kebutuhan di dalam diri manusia. Menerima cita-cita dan konsep-konmsepnya dari kelompok-kelompok, sehingga tanpa ada kelompok manusia, maka tidak akan mampu berfikir. Dari kelompok itulah pribadi menerima tujuan-tujuan yang harus dicapainya dan motif-motif untuk bertindak. Juga dari kelompok itulah manusia mempelajari perasaan-perasaan dasar,seperti misalnya perasaan-perasaan jadi orang tua.
Dan dari kelompok itu juga muncul kepribadian,oleh karena kepribadian yang membentuk situasi sikap, tindak yang khas baginya, artinya: Pribadi mempunyai perangkat yang sangat khusus baginya.
Masyarakat merupakan proses saling pengaruh-mempengaruhi antara kebutuhan pribadi dengan unsur-unsur kehidupan bersama. Akan tetapi masyarakat merupakan suatu realitas yang baru. Pendapat Summer tersebut diatas dapat mewakili persfektif yang pertama. Sedangkan yang masuk kategori persfektif kedua adalah dari Max weber. Max weber bertitk tolak pada pendapat bahwa antara pribadi dengan masyarakat terdapat dinamika pengaruh-mempengaruhi yang bersifat konstan. Dan Dia membuat suatu pradigma dan menempatkan manusia pada pusat pradigma yang memersebut. Sebagai factor-faktor yang mempunyai tujuan secara alamiah.
Sebagai substratum dari dari faktor tadi adalah proses-proses mekanis dan inksiktif dari suatu organism. Dari faktor tersebut memancar konteks kebudayaan,norma-norma,tujuan-tujuan dan lain sebagainya.Ketiga dimensi tersebut berfusi di dalam tindakan-tindakan manusia yang merupakan gejala yang berlangsung terus. (Soerjo,Soekanto. 1983)

Dinamik Masyarakat Dan Kebudayaan
Semua konsep yang kita perlukan apabila kita ingin menganalisa proses-proses pergeseran masyarakat dan kebudayaan, termasuk lapangan penelitian ilmu antropologi dan sosiologi yang disebut dinamik social (social dynamics). Di antara konsep-konsep yang terpenting ada yang mengenai proses belajar kebudayaan oleh warga masyarakat yang bersangkutan, yaitu internalisasi (internalization), sosialisasi (socialization), dan enkulturasi (enculturation). Ada juga proses perkembangan kebudayaan umat manusia pada umumnya dan bentuk-bentuk kebudayaan yang sederhana, hingga bentuk-bentuk yang makin lama makin kompleks, yaitu evolusi kebudayaan (cultural evolution). Kemudian ada proses penyebaran kebudayaan-kebudayaan secara geografi, terbawa oleh perpindahan bangsa-bangsa di muka bumi, yaitu proses difusi (diffusion). Proses lain adalah proses belajar unsur-unsur kebudayaan asing oleh warga sesuatu masyarakat, yaitu proses akulturasi (acculturation)  dan asimilasi (assimilation) . akhirnya ada proses pembaruan atau inovasi (innovation), yang erat sangkut pautnya dengan penemuan baru (discovery dan invention).
(Koentjaraningrat:2002)

Fungsi Hukum dalam kehidupan Masyarakat
Pengakuan masyarakat terhadap pembatas kebebasannya yang termuat dalam hukum berdasarkan bedasarkan kesadaran bahwa hukum mempunyai fungsi dalam usha mewujudkan suatu kehidupan bersama yang baik. Berdasarkan dari 3 ciri manusia : manusia itu makhluk yang berakal budi, berarti kelakuan manusia di atur secara normatif bukan secara institual, manusia mempunyai sifat – sifat jasmani membawa akibat dalam dua arah, yaitu manusia membutuhkan benda – benda material dan manusia dapat di tindas, di taklukkan, manusia adalah makhluk sosial berarti manusia hanya dapat mewujudkan kehidupannya, bahkan menjadi diri, dalam kebersamaan dengan orang lain. Kombinasi antara sifat jasmani dan sosial menciptakan suatu situasi yang memerlukan penataan normatif melalui hukum. Misalnya untuk mengolah hasil bumi sampai menjadi barang kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial, harus bekerjasama.
            Fungsi hukum yang paling dasar adalah mencegah konflik kepentingan di pecahkan dalam konflik terbuka, artinya semata – mata atas dasar kekuatan dan kelemahan pihak – pihak yang terlibat. Dengan adannya hukum konflik kepentingan tidak lagi di pecahkan menurut siapa yang paling kuat, melainkan berdasarkan aturan yang berorientasi pada kepentingan dan nilai objektif dengan tidak membedakan antara yang kuat dengan yang lemah.
            Disamping itu, hukkum berfungsi untuk memanusiakan penggunaan kekuasaan dalam masyarakat. Adanya tatanan hukum menjamin bahwa orang atau golongna yang berkuasa tidak dapat bertindak sewenang – wenang. (Surajiyo.2005)
Keadaan Alamiah Manusia Dan Masyarakat
Didalam masyarakat yang kontemporer masalah tersebut bersumber pada asumsi-asumsi yang timbul sebagai hasil penelitian Freud terhadap “Libido”sivitas dan diri manusia,impulse dasarnya untuk memiliki sesuatu,tidak adanya toleransi terhadap penuhnya tempat atau ruang tertentu dan seterusnya. Para sosiolog lebih banyak terpengaruh oleh dua aliran penafsiran mengenai dasar keadaan alamiah manusia. Masukan pertama datang dari pemikiran pemikira pada abad ke 18, Pemikiran-pemikiran di abad 17 dan 18 ditandai dengan suatu optifisme tertentu terhadap manusia dan hari depannya. Hal itu terjadi pada saat terjadi perkembangan-perkembangan dunia ilmiah, dan dan pada waktu ide-ide mengenai perkembangan mulai berkembang. Periode tersebut biasanya disebut sebagai suatu masa penalaran oleh karena terjadinya intensitas kepercayaan terhadap kekuatan intelektual manusia.
            Masa penalaran tersebut mencapai puncaknya ketika keluarannya menghasilkan suatu kritik terhadap situasi social yang ada dan munculnya model-model ideal dari organisasi sosial. Kritik-kritik tersebut menjadi dasar filosofis bagi terjadinya revolusi Prancis dan Amerika.
            Keadaan alamiah manusia mempunyai akar-akar fisiologis yang terutama tampak dalam bidang emosi. Kemungkinan tersebut berasal pada pendapat-pendapat para ahli filsafat sosial mengenai struktur-struktur perasaan dari manusia. Kekuatan dari pandangan tersebut sebenarnya bukan terletak pada filsafatnya tetapi melalui penjabarannya melalui kegiatan-kegiatan ilmiah.
            Herbert spencer berpendapat bahwa pada taraf non sosial manusia tidaklah semuanya sama.dan bahkan kemungkinan besar terjadinya variasi-variasi yang cukup penting. Selanjutnya Spencer berpendapat bahwa setiap unsur historis dari masyarakat sampai taraf tertentu mempunyai persaman-persamaan. Ada kemungkinan terdapatnya kelas-kelas sosial. Perbedaan seksual maupun variasi pribadi,akan tetapi persamaan antar warga-warga di dalam suatu masyarakat lebih penting dari perbedaan-perbedaannya. Akan tetapi perbedaan-perbedaan besar terdapat pada unsur-unsur batiniah dari warga-warga berbagai masyarakat. Keadaan almiah dasar manusia merupakan suatu proses yang berlangsung secara terus-menerus.  Perbedaan-perbedaan rasial dari lembaga-lembga fisik dan psikis mengikuti tahap-tahap tertentu dalam proses evolusi tersebut.
            Secara almiah manusia mempunyai tujuan-tujuan yang ingin dicapainya,dan dia beraksi atas dasar  konseptuasi cara dan tujuan tersebut. Variasi perilaku terjadi oleh karena konteks yang dihadapinya mungkin juga tidak sama. Disinilah letak kepentingan tugas para sosiolog untuk meneliti arti-arti struktur yang didasrakan pada keadaan historis.
            Diantara unsur-unsur perasaan atau emosi tersebut, terdapat aspek-aspek sosial, yakni keinginan-keinginan untuk bervariasi berdasarkan berbagai macam pengalaman. Hal mana hal tersebut sebagai egoisme yang murni. Egoisme yang murni tersebut sebenarnya merupakan dorongan untuk mendapatkan suatu kenikmatan.(Soerjo Soekanto :1983)

Pribadi Masyarakat Dan Pasangan Nilai-Nilai
            Pengertian nilai-nilai,apabila ditinjau dari sudut pandang sosiologis, didalam kamus umum bahasa Indonesia yang disusun oleh P,J,S Purwodarminta dan yang kemudian diolah kembali oleh pust pembinaaan dan bahasa departemen p dan k,nilai diartikan sebagai berikut:
1.      Harga (dalam arti taksiran harga)
2.      Harga sesuatu (uang misalnya) jika diukur atau ditukarkan dengan yang lainnya
3.      Angka kepandaian atau ponten
4.      Kadar, mutu, banyak sedikitnya isi
5.      Sifat-sifat atau hal-hal yang penting atau berguna bagi kemanusiaan.
(Soerjo Soekanto:1983)

KESIMPULAN
Masyarakat juga mempunyai hubungan dengan lingkungan fisik, yang  menghasilkan bentuk-bentuk akomodasi tertentu di dalam masyarakat. Terutama di dalam organisasinya. Masyarakat tersusun atas hakekat manusia, sedangkan bentuknya ditentukan oleh alam,dan modifikasi yang dibentuk sulit di tentukan akibatnya pada manusia, kecuali setelah satu jangka waktu yang lama. Oleh karena hakekat manusia berubah maka masyarakat juga berubah. Moral masyarakat semakin meningkat lebih dibentuk oleh inteligensia,dan lebih mampu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan warga masyarakat yang semakin berkembang
Masyarakat akan selalu mengalami perubahan dan perubahan itu seiring dengan tuntunan perkembangan kehidupan masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi, pengaruh regional dan global. Pendidikan berperan penting dalam mewujudkan dan mengembangkan nilai – nilai baru yang di inginkan menuju masyarakat Indonesia baru.

DAFTAR PUSTAKA
Hardiman, B.1993. Menuju Masyarakat Komunikatif. Yogyakarta: Kansius 

Koentjaraningrat.2002. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka cipta

Soekanto, S.1983. Pribadi dan Masyarakat.Jakarta: Alumni

Surajiyo.2005. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta: PT Bumi Aksara

Tim dosen. 2011. Filsafat Pendidikan.Medan: FIP UNIMED
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar